Ratusan Polisi Jaga Lokasi Ledakan
Selang sehari setelah dua ledakan memporak porandakan Ritz Carlton dan J.W. Marriott, ratusan polisi perketat keamanan disekitar lokasi, Sabtu (17/7), demikian kantor berita Antara melaporkan.
Setelah sekian lama Indonesia terbuai ketenangan, kini Bom tiba-tiba memporakporandakan dua hotel Internasional yang sudah menjadi langganan teror. Sebelumnya, dua hotel tersebut tercatat sebagai hotel internasional dengan penjagaan paling ketat di Indonesia.
Hingga saat ini, korban tewas mencapai 12 orang, sementara 50 lainnya mengalami luka berat dan ringan.
Hingga saat ini, masyarakat masih terus berdatangan untuk melihat lokasi ledakan. Sementara itu beberapa organisasi massa sudah menyatakan belasungkawa di depan Hotel Ritz Carlton dengan puluhan karangan bunga.
Pada pagi tadi, 75 anggota FKPPI ikut menyatakan belasungkawa di depan Hotel Ritz Carlton. Beberapa organisasi pemuda lintas agama pun telah melakukan aksi serupa. Hal ini menegaskan bahwa aksi teror hanyalah aksi segelintir orang. h4war29u7k
Debat Final Yang Tak Final
Malam ini, KPU menggelar debat capres terakhir. Berbagai pelajaran dari debat capres sebelumnya, kini dibebankan pada debat final. Moderator menanggung beban tak finalnya pekerjaan moderator terdahulu, sementara capres dibebani pekerjaan final untuk meyakinkan konstituen.
Prof. Dr. Pratikno yang masih menjabat sebagai dekan FISIPOL UGM menjadi moderator perdebatan kali ini. Dosen yang dikenal kritis oleh berbagai kalangan ini memang menanggung beban lebih berat daripada moderator debat sebelumnya. Sebelumnya, para moderator debat selalu mendapat kritik karena ketidakmampuan mereka dalam menghibur dan membangun debat antar capres.
Dalam debat kali ini, Prof Pratikno dalam laporan Kompas pun mengakui bahwa moderator yang berasal dari dunia kampus memang tak terlatih untuk mengibur sementar sebagian besar masyarakat awam masih mengharapkan hiburan dari perdebatan panas yang gagal muncul dalam perdebatan terdahulu. Beberapa pernyataan apologi yang ditampilkan Kompas memperlihatkan bagaimana beban berat moderator dalam mengawal debat carpres final sesuai dengan harapan masyarakat.
Alhasil, dalam pengamatan, moderator kali ini terlihat nervous dan memang tampak tidak terlatih untuk menghibur. Hal ini bisa dilihat dalam salah satu indikator ketika moderator memegang mikrofon terlalu dekat dan tampak kaku. Beberapa patah kata pengantar dan pertanyaan pun terkadang terputus blank yang diduga karena nervous yang dialami Prof Pratikno selaku moderator.
Tema debat kali ini adalah NKRI, Demokrasi dan Otonomi Daerah. SBY, dalam laporan Okezone bahkan sudah mengaku siap menghadapi debat final ini. Arnas Urbaningrum, salah satu tim kampanye SBY menyampaikan hal ini kepada okezone mengingat tema debat kali ini adalah pekerjaan sehari-hari SBY sebagai presiden. JK dan Megawati pun tak mau ketinggalan. Keduanya pun mengaku siap menghadapi perdebatan.
Namun hasil akhir menunjukkan bagaimana SBY mampu menjawab pertanyaan dari moderator dengan baik. Tanggapan SBY terhadap jawaban capres lain pun tampak mengena. JK pun tak ketinggalan. Penampilannya kali ini dinilai mampu mengimbangi SBY yang terstruktur dan sitematis. Namun malang bagi Megawati yang kali ini tampak tak menguasai tema dengan baik. Beberapa pertanyaan kritis dari moderator tak mampu dijawab dengan baik. Seperti pada debat-debat sebelumnya, Megawati masih selalu melihat kebelakang dengan mengunkit nama besar Soekarno yang juga adalah ayahnya.
Namun dalam penilaian tim akademisi UI yang bekerja sama dengan Metro TV memperlihatkan SBY dan JK terpaut tipis dengan nilai 8,6 dan 8,7. sementara itu, Megawati sebagai underdog tampak tak menguasai tema dengan baik. Tim akademisi UI pun memberi nilai 6,7 pada Megawati untuk penampilannya pada keseluruhan acara debat capres yang digelar KPU.
Dalam penampilan kali ini, ketiga capres hadir didampingi pasangan masing-masing kecuali Megawati yang hadir sendiri tanpa didampingi Prabowo Subianto. Secara provokatif bahkan situs berita online, inilah.com menggambarkan Megawati yang jomblo. Menurut laporan, pada saat debat capres sedang berlangsung, Prabowo tengah melakukan tur kampanye di Bandung dan sekitarnya.
Debat kali ini memang final. Moderator yang terbeban ekspektasi masyarakat, meski gagal menghibur dengan baik, telah mampu menampilkan pertanyaan-pertanyaan kritis kepada para kandidat. Namun sungguh disayangkan ketika para kandidat hanya mampu menjawab secara normatit dan perdebatan seru yang sudah ditunggu pun urung terwujud. Dan ditengah kegagalan perdebatan memenuhi ekspektasi masyarakat, dan ditengah kegagalan munculnya perdebatan panas, inilah debat final yang tak final.
Berapa Gajimu?
Hari ini Pepih Nugraha, seorang wartawan Kompas menuliskan laporannya tentang peluncuran sebuah situs gaji. Nama situsnya, gajimu.com. situs non-profit ini berafiliasi dengan The WageIndicator Foundation dan rubrik perempuan Kompas.
Situs baru tersebut memang membuat penasaran. Apalagi jika melihat afiliasi dibelakang situs non-profit tersebut. Laporan yang didedikasikan oleh Pepih Nugraha di Kompasiana pun semakin menambah penasaran. Pepih Nugraha melaporkan bagaimana peluncuran situs tersebut dilaksanakan di Pisa Cafe dengan dihadiri beberapa selebritis seperti Shahnaz Haque, Santi Manuhutu, dan Anya Dwinov sebagai host.
Dengan penasaran, lalu situs tersebut saya kunjungi. Sekilas memang situs tersebut menawarkan konten yang tampak menarik, sebuah situs yang menawarkan informasi perbandingan gaji pekerja. Ketika dicek, ternyata konten andalan situs ini, yaitu konten survey gaji masih belum berjalan dengan baik. Ketika dicoba, konten tersebut tidak berhasil menampilkan data. Konten lain di situs gajimu.com pun masih belum optimal. Beberapa konten tampak menampilkan data-data gaji tahun 2007.
Situs ini berafiliasi dengan The WageIndicator Foundation, sebuah lembaga non profit Internasional yang mengerjakan proyek pertamanya di Belanda dengan situs Loonwijzer.nl. Di Indonesia, proyek tersebut diteruskan dengan sebuah situs bernama gajimu.com.
Di Belanda, Yayasan Loonwijzer merupakan inisiatif bersama FNV (serikat datang Belanda), University of Amsterdam / AIAS (Institute of Labour Studies) dan situs karir Belanda, Monsterboard. Beberapa lembaga tersebut kemudian membentuk dewan pengawas dan menjalankan proyek The WageIndicator Foundation.
Terlepas dari konten yang belum terlalu siap dan acara peluncuran yang kelewat mantap seperti dilaporkan oleh Pepih Nugraha, masa depan proyek ini tampak cukup menjanjikan. Indikator upah yang ditawarkan dan jaringan global yang sedang dibangun akan menajadi salah satu keuntungan bagi kelas pekerja untuk tidak terlalu didikte oleh pembuat kebijakan upah minimum.
Selama ini, upah minimum adalah instrumen negara untuk menarik investor. Semakin kecil upah minimum, investor akan semakin tertarik dengan efisiensi biaya produksi yang ditawarkan. Namun, tak dapat disangkal bahwa perselingkuhan antara negara dengan kapital akan merugikan kelas pekerja domesktik. Lihat saja, ketika demi investor negara menurunkan standar gaji minimum, maka pekerja pun akan dirugikan.
Informasi upah selama ini memang minim. Beberapa kelompok kepentingan seperti serikat-serikat buruh tak dapat dipungkiri memang kesulitan menyuarakan kepentingannya terkait dengan upah dan kesejahteraan mereka. Kedepan, ketika indikator upah yang dijalankan oleh The WageIndicator Foundation terbagun dengan baik, serikat-serikat pekerja dan kelompok-kelompok kepentingan dapat menyusun berbagai kepentingannya terkait dengan upah dan kesejahteraan berdasarkan indikator upah global.
Bagi individu, indikator upah ini nantinya memang bisa menjadi salah satu referensi kenaikan gaji. Terbatasnya informasi tentang gaji memang membuat pekerja kadang terkungkung dalam skema gaji yang kadang merugikan. Dengan informasi dan referensi yang ditawarkan situs gajimu.com, maka keterbatasan informasi ini dapat di atasi. Individu dan serikat pekerja pun dapat bersuara lantang ketika gaji mereka berada dibawah indikator upah global.
Namun, mengingat usianya di Indonesia yang baru sehari, maka berbagai kekurangan memang bisa dimaklumi. Minimal, keseriusan proyek ini di Indonesia bisa kita lihat dari acara peluncuran yang tampak bonafid seperti yang dilaporkan oleh Pepih Nugraha. Maka, inilah konten baru yang patut kita tunggu.
Soprano versus Piano di Tembi
Melanjutkan seri konser musik klasik terdahulu, malam ini, Jumat (26/6), Rumah Budaya Tembi Yogyakarta kembali menggelar konser musik klasik bertajuk Romanticism-Impressionism – a Song Recital.
Kali ini Mari Jinai yang menyanyi Soprano bersama dengan Issei Sakano yang bermain piano berduet dengan apik. Kedua pemain musik berdarah Jepang tersebut memainkan beberapa nomor klasik jaman Romantis.
Beberapa lagu yang mereka bawakan adalah lagu gubahan pemusik klasik jaman romantis seperti Gabriel Faure, Erik Satie, Francis Poulenc, dan Henri Duparc. Karya-karya yang dibawakan adalah ciptaan antara tahun 1845 hingga 1933.
Konser dimulai pukul 7 malam, dibuka dengan sepatah kata dari Anton Isselhardt. Berbeda dengan konser sebelumnya, kali ini konser lebih didominasi oleh penonton lokal. Beberapa turis asing memang menyempatkan diri untuk menonton namun tak sebanyak pada konser minggu lalu.
Ketika suara sopran berpadu dengan piano, penonton pun terdiam membisu. Konsentrasi memang diperlukan untuk dapat menikmati musik klasik yang disuguhkan oleh duet Mari Jinai dan Issei Sakano. Sedikit terlewat, penonton pun bisa ketinggalan menikmati teknik bermain musik yang sangat matang dari duo ini.
Rencananya, pada sabtu esok hari (27/6) Rumah Budaya Tembi masih akan melanjutkan konser musik klasik serupa dengan komposisi pemain yang lebih beragam. Anton Isselhardt menjanjikan penampilan yang lebih spesial untuk konser malam minggu besok.
Megawati, Berharaplah Pada Underdog Effect
Pemilu presiden tinggal beberapa hari lagi, beberapa kandidat sudah mantap bertengger di posisi satu-dua di setiap survey dan poling. Namun Megawati, bahkan sebelum mendeklarasikan diri sebagai capres 2009 pun sudah berada di posisi paling buncit.
Beberapa poling dan survey telah banyak dilakukan baik oleh lembaga legal maupun tak jelas. Survey pun dilakukan sesuai pesanan atau murni kegiatan penelitian ilmiah. Beberapa lembaga yang getol menampilkan hasil surveynya menjelang pilpres kali ini masih tetap didominasi oleh lembaga-lembaga mapan semacam Lingkaran Survey Indonesia, Lembaga Survey Indonesia, Lembaga Riset Indonesia, dan berbagai lembaga survey yang dimotori oleh media-media mapan seperti Kompas, dan Tempo.
Hasil berbagai survey politik memang selalu menempatkan SBY-Boediono pada posisi puncak. Pasangan incumbent ini memiliki elektabilitas paling tinggi. Angkanya tak pernah bergerak dibawah 60 persen. Hal inilah yang kemudian memberikan kepercayaan diri kepada pasangan ini terkait dengan pelaksanaan pilpres satu putaran yang sudah digembar-gemborkan ke segala penjuru negeri.
JK-Wiranto pun memiliki elektabilitas yang tak begitu buruk. Angka elektabilitas pasangan ini merangkak naik pada setiap sesi survey yang diumumkan kepada publik. Alhasil, pasangan penantang ini pun yakin akan terpilih pada pilpres nanti.
Hal yang paling menyedihkan adalah ketika melihat Mega-Pro selalu berada pada posisi buncit. Angka elektabilitas pasangan ini tak pernah bergerak diatas 20 persen. Jika hal ini dibiarkan terjadi hingga pilpres nanti, maka tamatlah karir politik Megawati. Minimal menjadi sangat irasional jika megawati kembali maju pada pilpres 2014 berhadapan dengan tokoh-tokoh baru.
Incumbent mungkin akan diuntungkan oleh bandwagon effect. Beberapa hasil survey memang selalu menempatkan incumbent pada posisi favorit calon presiden. Dalam teorinya, representasi hasil survey semacam ini pada akhirnya dapat menggiring suara konstituen pada pemuncak survey.
Namun, bagi Megawati yang selalu berada di posisi paling buncit bahkan sebelum mendeklarasikan diri sebagai capres 2009, selalu masih ada harapan. Posisi mengkhawatirkan yang digambarkan dalam setiap survey tentu saja menjadi tantangan bagi tim sukses untuk bekerja lebih keras lagi guna memperbaiki posisi melalui berbagai cara.
Beberapa studi memang memperlihatkan konsistensi bertarung yang diperlihatkan oleh kandidat underdog akan menjadi daya tarik tersendiri bagi konstituen. Selain itu rasa iba konstituen pun bisa menjadi penolong bagi Mega-Pro. Maka bagi Mega-Pro, jika ingin jadi pemenang, berharaplah pada underdog effect.
Demi SBY, Amien Rais Absen Seminar
Sedianya, hari ini (21/6) Amien Rais menjadi salah satu pembicara seminar internasional bertajuk “Political Economy Of Globalisation: East And South East Asia Perspective” yang diadakan di University Club, UGM, Yogyakarta. Namun, apa daya jika SBY memanggil.
Amien Rais hari ini dijadwalkan menjadi Keynote speaker bersama dengan Nanang Pamudji Muga Sejati, dosen senior Hubungan Internasional UGM dan Lee Chung Hee, dosen tamu dari Korea. Ketiganya akan membicarakan berbagai perkembangan aktual ekonomi politik kawasan Asia Timur Dan Tenggara.
Sejak jauh-jauh hari, seminar ini telah dipersiapkan dengan baik. Beberapa spanduk dan poster telah disebar kebeberapa tempat di Yogyakarta. Beberapa pembicara pun telah dikonfirmasi kesediannya, termasuk Amien Rais. Makalah ilmiah pun telah disiapkan dan dikirimkan kepada panitia.
Menurut panitia, seminar kali ini dihadiri oleh 240 peserta yang menunggu ide-ide ilmiah segar dari pembicara. Kebanyakan peserta berasal dari kalangan Mahasiswa di Yogyakarta. Beberapa memang datang dari kampus-kampus luar Jogja.
Namun secara mendadak, Amien Rais absen pada seminar kali ini. Menurut panitia, Amien Rais dipanggil SBY untuk menemaninya berkampanye di Padang. Sejak Sabtu lalu, SBY memang sedang menjalani kampanye pilpres track 3 yang digelar di Pekanbaru, Medan, dan Padang. Selain ditemani Amien Rais, SBY juga ditemani beberapa artis ibukota seperti Mike Idol, Rio Febrian, dan Ferdy Hasan.
Sampai tulisan ini diturunkan, panitia masih membiarkan posisi lowong pembicara yang ditinggalkan Amien Rais. Hal ini lebih dikarenakan Amien Rais yang terlalu mendadak absen sehingga panitia kesulitan mencari pembicara pengganti.
Gimmick Marketing Mega-Pro
Tiba-tiba saja, ruang publik ramai dengan jargon-jargon ekonomi. Maklum pada masa kampanye pilpres, isu ekonomi adalah isu yang paling utama yang ditonjolkan masing-masing pasangan. Namun jika ditelusuri lebih dalam, ternyata gimmick marketing pasangan Mega-Pro adalah yang paling menarik.
Menjadi menarik karena jargon yang digembar-gemborkan kedua pasangan ini penuh dengan kontradiksi. Coba saja cermati gimmick marketing yang digunakan pasangan ini untuk menarik hari rakyat.
Dalam ranah ekonomi, pasangan mega-pro adalah pasangan yang bersuara paling keras tentang ekonomi kerakyatan. Mereka menerjemahkannya sebagai ekonomi yang berpihak kepada rakyat kecil. Lalu kebijakan yang akan lebih banyak diambil adalah kebijakan yang menguntungkan petani, nelayan, dan pedagang pasar.
Mega-pro menjanjikan pertumbuhan 10 persen selama masa pemerintahannya jika terpilih. Untuk meweujudkannya, pasangan ini sudah menggembar-gemborkan kebijakan-kebiajakan ekonomi yang katanya pro rakyat. Diantara janji-janji itu antara lain adalah janji untuk meningkatkan memberdayakan para petani/.
Kontradiksi lalu muncul seiring makin kerasnya mereka mengumbar janji. Salah satu kontradiksi adalah ketika analisis Fajar Hirawan dari CSIS beberapa waktu lalu menunjukkan bahwa pola pertumbuhan ekonomi Indonesia paska reformasi lebih bertumpu pada sektor tersier. Artinya, selama ini sektor pertanian tidak mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara signifikan.
Ditinjau dari segi teoritis, kebijakan publik adalah hasil akhri dari tarik menarik kepentingan. Selain itu, dengan logikan zero-sum game, kebijakan publik juga terkadang menguntungkan bagi satu pihak dan merugikan pihak lain.
Ditinjau dari perspektif ini, janji Mega-Pro jelas akan sulit dilaksanakan. Lihat saja janji prabowo yang akan memaksa para bankir untuk lebih memberikan kredit kepada petani daripada para pengusaha. Jelas, para investor asing bisa hengkang dari Indonesia. Sementara bagi pengusaha lokal, pertumbuhan mereka bisa terganggu ketika kredit bank semakin seret.
Melihat peta kepentingan yang ada, jelas parlemen akan lebih memilih kebijakan tidak serta merta mengalahkan para investor dan menguntungkan para petani. Logikanya, ketika iklim investasi dalam negeri semakin tidak nyaman, ujung-ujungnya adalah pelarian modal besar-besaran. Tanpa modal, jelas pembangunan dan kesejahteraan tidak akan tercapai.
Coba tengok pernyataan Prabowo yang menyatakan lebih membela pedagang pasar dari pada carefour dalam sebuah acara televisi beberapa waktu lalu. Di ranah lokal, carefour pada dasar tidak banyak merugikan petani. Masih banyak ibu-ibu yang lebih memilih berbelanja di pasar tradisional karena berbagai faktor. Sementara carefour hanya menjadi hiburan akhir pekan.
Jika kemudian investasi-investasi semacam carefour diberangus, jelas ratusan bahkan ribuan orang bakal kehilangan pekerjaan. Daerah pun akan kehilangan PAD-nya ketika investor asing hengkang.
Gimmick semacam itu sebenarnya berpotensi membodohi masyarakat. Rakyat dihujani janji muluk sementara pasangan capres tidak membeberkan realita yang sebenarnya. Dalam gimmick marketing soal ekonomi, sasaran Mega-Pro jelas para petani dan nelayan yang jumlahnya hampir setengah total jumlah penduduk di Indonesia.
Di ranah yang lain, Prabowo dan megawati pun sudah mengobral janji penghapusan Ujian Nasional. Sasarannya jelas adalah para guru, atau orang tua murid yang tak diuntungkan dengan kebijakan tersebut. Sayang realita tak digambarkan oleh pasangan ini.
Penghapusan kebijakan UN sudah tentu akan melibatkan proses panjang yang memakan waktu lama. UN pada dasarnya adalah konsekuensi disahkannya UU Sisdiknas yang dibentuk melalui tarik menarik yang panjang. Penghapusannya pun jelas akan memakan waktu lama dan berbiaya mahal. Bisa jadi jika terpilih nanti, pasangan ini tidak akan mampu melaksanakan janjinya kecuali mereka berani menelikung proses demokratik dan mencederai demokrasi yang telah dibangun sepuluh tahun terakhir. Maka rakyat kemudian perlu waspada terhadap janji muluk.
Konser Flute di Puskat
Hari ini Rumah Budaya Tembi mengadakan mini konser Flute bertajuk Transcendent Experiences With Sacred Music. Konser bertempat di Aula Pusat Musik Liturgi, Puskat Yogyakarta.
Beberapa pemain yang dihadirkan dalam konser kali ini adalah Mari Jinai (soprano), Beny Hanteriska (flute), Anton Isselhardt (flute), Juzan Asanawi (bassoon), Issel Sakano (organ), Muhammad Januar (violin), Julius Catra Hanakin (violin).
Para pemain profesional tersebut mamainkan dengan apik beberapa lagu klasik karya Johann Sebastian Bach. Diantara lagu yang dibawakan adalah Sonata For Two Flutes And Basso Cuntinuo BWV 1039 Dan Kantata BWV 82.
Para pemain memainkan musik dengan dingin namun permainan mereka berhasil menghangatkan suasana. Penguasaan skil bermain musik klasik yang disuguhkan para pemain membuat para penonton berkonsentrasi Sedikit kata dari Anton Isselhardt membuka konser, selebihnya adalah permainan apik yang mungkin jarang ditemukan di Yogyakarta.
Sedianya konser dimulai pukul 19.00 WIB. Namun beberapa pencinta musik klasik sudah mengisi ruangan setengah jam sebelum konser dimulai. Sekitar seratusan penonton yang sebagian besar adalah wisatawan asing memadati sebagian aula Puskat tempat pertunjukan.
Konser kali ini adalah pembuka dari seri konser musik klasik yang diadakan oleh Rumah Budaya Tembi. Menurut panitia, konser berikutnya akan diadakan di Rumah Budaya Tembi pada 26 dan 27 Juli bertempat di Rumah Budaya Tembi.
Jalan Panjang FKY
Jalan Panjang FKY
Mungkin Festival Kesenian Yogyakarta atau sering disingkat FKY adalah salah satu festival yang paling ditunggu-tunggu oleh masyarakat Jogja. Tahun ini, perjalanan panjang FKY sudah memasuki tahun penyelenggaraan ke 21. selama itu pula tema-tema berubah seiring perubahan jaman. Tapi ada satu yang tak pernah berubah adalah pasar unik FKY.
Dalam setiap penyelenggaraannya, FKY selalu diramaikan oleh berbagai pertunjukan seni mulai dari seni tari hingga festival band indie. Beberapa acara yang terkadang unik tak pernah luput dari pembicaraan pengujung. Lihat saja, fashion show khusus ibu dan bayi atau lomba menyanyi waria.
Berbagai acara unik selalu berbeda setiap tahun. Hal ini telah disesuaikan dengan tema besar yang diusung oleh panitia penyelanggara. Untuk tahun ini, panitia telah menetapkan kebudayaan daerah sebagai tema besar. Lalu beberapa acara seperti pertunjukan tari tradisional, hingga campur sari pun jadi jualan utama disamping acara-acara unik seperti fashion show ibu dan bayi atau fashion show waria yang masih tetap dipertahankan.
Perubahan tema dan acara selalu terjadi sesuai dengan pesan yang akan disampaikan oleh panitia. Namun dibalik perubahan-perubahan tersebut, pasar unik FKY adalah salah satu ranah yang tak pernah disentuh perubahan. Sejak pertama kali diselenggarakan, Pasar seni FKY memang selalu memancing keramaian tersendiri.
Maka tak heran jika panitia kali ini menyiapkan 213 stand yang dapat digunakan berbagai kalangan untuk berjualan barang khas jogja atau sekedar memamerkan komunitas mereka. Maka keberagaman dan keunikan pasar seni yang tak terduga setiap tahun inilah yang menjadi salah satu daya tarik FKY.
Lihat saja stand lulur Jenar yang menawarkan berbagai produk lulur tradisional yang terbuat dari berbagai macam bahan tradisional mulai dari lumpur hingga coklat. Stand lain pun ada yang menampilkan komunitas pelukis jalanan yang menawarkan jasa lukis murah meriah dan secepat kilat hingga bisa ditunggu.
Berbagai keunikan tak terduga dan tema yang berubah sesuai jaman dalam setiap penyelenggaraan FKY adalah salah satu hal yang membuat warga Jogja menunggu-nunggu even ini. “FKY akan menjadi hiburan segar ditengah hiruk pikuk kampanye” kata Sultan Hamengkubuwono X beberapa waktu lalu ketika membuka FKY secara resmi. Disamping sebagai hiburan, jalan panjang FKY telah menjadi salah satu kebanggaan tersendiri bagi warga Jogja.
UGM Kini Menjadi Portal University
Belakangan semakin banyak portal bermunculan di UGM. Tak hanya membatasi akses bagi warga non Ugm yang tak berkepentingan, portal-portal tersebut warga UGM yang beraktifitas hingga larut malam. Mungkinkah arah pengembangan UGM telah salah?
Beberapa portal memang dibangun sejak bulan Oktober tahun lalu. Sedikitnya dua portal dibangun di kampus bagian Timur, diantara jalan menuju ke Lembah UGM. Dua portal tersebut mulai ditutup pada jam 12 malam hingga jam 6 pagi. Keberadaan dua portal ini setidaknya membatasi akses warga UGM yang bekerja lembur hingga larut malam. “saya sering harus menginap di kampus karena terlambat pulang” kata iwan, seorang peneliti sebuah fakultas di Kampus UGM sayap Timur. Iwan adalalah salah satu warga UGM yang biasa pulang jam 1 malam karena pekerjaan yang harus diselesaikan.
Sementara itu, sebuah portal juga dibangun di depan Plaza Foodcourt UGM. Keberadaan portal ini juga membatasi akses mahasiswa yang akan berkegiatan di Gelanggang mahasiswa, terlebih portal ini mulai ditutup jam 7 malam, jam sibuk para aktifis gelanggang. “saya harus memutar jalan sejauh 2,5 km untuk masuk ke gelanggang” kata wahyu, salah seorang aktifis Gelanggang Mahasiswa UGM.
Keberadaan beberapa portal baru tersebut sedikit banyak telah mengganggu aktifitas warga UGM, khususnya yang beraktifitas hingga larut malam. Selain itu, portal-portal tersebut juga membari batas tambahan antara ugm dengan lingkungan, bahkan dengan warganya sendiri.
Pembangunan portal-portal tersebut dipertanyakan oleh beberapa pihak sebagai kesalahan pengembangan UGM. Selama ini pihak petinggi kampus tersebut memang mencanangkan UGM sebagai universitas riset tingkat dunia. Beberapa pihak menganggap apa yang dilakukan oleh para birokrat kampus tersebut adalah strategi yang salah. ” kini UGM sebagai Portal University bukan sebagai Research University” kata Ahmad, seorang aktifis mahasiswa yang peduli terhadap pendidikan.
Jargon-jargon birokrat UGM memang agak fantastis. Bagaimana tidak, sejak berapa tahun yang lalu, UGM dicanangkan sebagai universitas riset tingkat dunia. Namun, beberapa strategi yang sudah dilaksanakan belum mencapai hasilnya. “UGM baru bisa menjadi Portal University”, kata ahmad. hal ini melengkapi cap UGM yang semakin jauh dari rakyat kecil. Sebelumnya UGM sudah menjaga jarak dengan rakyat kecil dengan menaikkan biaya pendidikan, dan kini jarak semakin jauh dengan adanya pembangunan beberapa portal.
